top
logo

Komentar terakhir


Halaman depan Pilih Edisi 12 SEREN TAUN 22 RAYAGUNG UPACARA SYUKURAN MASYARAKAT AGRARIS SUNDA
SEREN TAUN 22 RAYAGUNG UPACARA SYUKURAN MASYARAKAT AGRARIS SUNDA
Selasa, 09 Pebruari 2010 22:03
Upacara adat Seren Taun di Kab. Kuningan bisa dikatakan masyarakat seni tradisi yang kreatif serta menghasilkan produk-produk baru berbasis seni tradisi (seni tradisi yang benar-benar baru, modifikasi, atau peningkatan dari yang ada).

Walau ada semacam pembentukan rekontruksi untuk kembali menemukan jalan kebudayaan yang sekian lama menghilang, atau terpendam karena benturan-benturan budaya dari luar, sepertinya masyarakat tersebut berhasil melalui berbagai macam benturan tersebut, dan menjalaninya dari waktu kewaktu.

Cigugur terletak di kaki gunung Ciremai yang lebih tepatnya berada di sebelah barat Kabupaten Kuningan. Masyarakat setempat, kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani, karena daerah ini merupakan daerah pegunungan yang memiliki tanah yang subur dan cocok digunakan sebagi daerah agraris, banyak hasil bumi yang dihasilkan dari daerah Cigugur dan sekitarnya, misanya buah-buahan, padi, sayuran, dan sebagainya.

Karena daerah ini merupakan daerah agraris, maka masyarakat Cigugur mengadakan upacara syukuran atas hasil bumi yang diperoleh. Acara syukuran atas hasil bumi ini lebih dikenal dengan istilah Seren Taun. Seren Taun merupakan gelar budaya tradisional yang sering dilaksanakan oleh masyarakat agraris Sunda.

Acara ini biasa dilakukan oleh masyarakat Cigugur, lebih tepatnya dilaksanakan berpusat di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Diselenggarakan sebagai manifestasi luapan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Seren Taun juga dilaksanakan sebagai penghormatan kepada Dewi Sri atau Dewi Padi yang memberikan kesuburan bagi para petani.

Upacara Seren Taun diadakan pada bulan Rayagung pada penaggalan Jawa. Secara simbolis Rayagung merupakan keagungan Tuhan. Pada tanggal 18 Rayagung dimulai dengan upacara gajayak kemudian di lanjutkan upacara penumbukan padi pada tanggal 22 Rayagung. Bilangan 18 memiliki simbolis yang berkonotasi memiliki ciri welas asih atau kemurahan Tuhan. Bilangan 22 terdiri dari 20 dan 2. Bilangan 20 menggambarkan keyakinan kita terhadap Tuhan, bilangan 2 mengacu pada pengertian sikap dasar kesatuan dalam kebinekaan.

Dalam penyelengaraan Seren Taun karena masih berhubungan dengan agraris maka bahan-bahan seperti buah-buahan, umbi-umbian, padi, dan hewan yang merupakan bahan vital penunjang kegiatan. Lalu dalam ritus kegiatannya dalam formasi barisan pada pelaksanaan upacara Seren Taun terdiri dari barisan muda-mudi, ibu-ibu, bapak-bapak, dan rombongan kesenian yang diantaranya: tari buyung anglung buncis dari Baduy, angklung buncis dan dan dog-dog di sertai umbul-umbul. Masing-masing dari 4 penjuru, formasi barisan diatur sebagai berikut:

- Barisan yang terdepan adalah lulugu, yaitu dua orang pemudi yang membawa padi dan buah-buahan, umbi-umbian yang diikuti oleh seorang pemuda yang membawa payung janur bersusun tiga

- Sebelum pemudi yang membawa bibit padi yang dipayungi oleh para jajaka.

- Rombongan ibu-ibu yang membawa padi di atas kepala (nyuhun).

- Rombongan bapa-bapa yang memikul padi dengan rengkong dan pikulan biasa.

Rombongan tersebut memasuki tempat penumbukan dan lulugu memasuki Gedung Paseban Tri Panca Tunggal untuk penyimpan padi di tempat persembahan.
LAST_UPDATED2
 

Add comment


Security code
Refresh


bottom

Powered by Resonans.