top
logo

Komentar terakhir


Halaman depan Pilih Edisi 12 Mereorientasikan Seni
Mereorientasikan Seni
Selasa, 13 April 2010 10:53

  Oleh: Mufti-Ali-Sholih

Menjadi manusia, tentunya selalu memiliki dua sisi yang bertentangan dan juga mempersatukan, kedua sisi itu adalah anugrah dan kutukan. Anugrah, karena ketika dilemparkan ke bumi, manusia seolah dikutuk untuk menjadi penguasa dengan segala potensi yang dimilikinya, dan kutukan karena potensi itu tidak bisa meliwati dan melebihi alur kreasi semesta yang ada disekelilingnya. Akan tetapi, diluar kutukan dan anugrah, manusia sejatinya mampu mendamaikan dua kondisi itu untuk membuat kehidupannya di bumi lebih semarak. Hal ini, ditandai dengan dilahirkannya seni sebagai jawaban terhadap dua kondisi yang melingkupi hidup manusia.

Berangkat dari kondisi tersebut, seni pada akhirnya selalu disempitkan pemaknaannya pada wilayah hiburan, karenanya ketika berbicara tentang seni, setiap dari kita selalu saja mengaitkannya dengan posisi bagaimana seni bisa memberikan hiburan. Posisi ini, lambat laun menempatkan seni hanya sebagai sebuah barang konsumsi yang bisa memenuhi hasrat kebutuhan kita akan kesenangan, dan pada akhirnya membuat seni jatuh pada wilayah komersil yang tidak dilihat kadar “nilai” seninya.

Hal inilah, yang kemudian menjadi problem seni dan juga kesenian di era kontemporer. Berangkat dari  permasalahan tersebut, terdapat banyak kegelisahan beberapa kalangan tentang seni dan implikasinya bagi proses kehidupan berkesenian kedepan. Problem inilah yang tentunya akan sedikit saya bahas.

 

Akar Masalah “Seni”

Seperti yang disebutkan diatas, proses kesenian dan seni telah jauh mengalami degradasi makna yang cukup mendalam. Hal ini sejatinya telah lama hadir dalam perdebatan filsafat, yakni semenjak era Yunani Kuna. Satu diantara yang mempermasalhkan tentang seni adalah Plato dan Arisoteles. Dua tokoh itu berseteru untuk mendebatkan dimana posisi seni, dan akhirnya masing-masing pun tetap saja bersikukuh dengan pendirian awal mereka. Berselang beberapa abad dari mereka, problem kesenian dan seni diambil alih atas nama Tuhan, yakni saat Gereja menjadi penentu tunggal di abad pertengahan, yang hadir menguasai alur pikir manusia-manusia di tanah Eropa. Dan beberapa abad setelahnya, Renainssance lahir utuk membangunkan mimpi-mimpi manusia eropa tentang kemana dan dimana letak seni sesungguhnya harus dihidupkan.

Renainssance, pada akhirnya telah dianggap berjasa dalam membina dan menumbuhkan cara pikir manusia tentang seni, karenanya problem tentang seni seolah bukan lagi masalah besar yang akan memotong “nilai, makna, serta orientasi” seni kedepan.

Tapi problem itu kemudian lahir kembali, tatkala prosedur ekonomi gaya kapitalis hadir dan mulai menanam benih dalam rahim seni. Problem itu kemudian membawa seni lepas dari kerangka pakem pikiran dan juga idealisme yang membentuk dan menjaga orientasi seni. Hal inilah yang kemudian, mengantarkan seni pada titik ekstrem, yakni seni sebagai komoditas dari gaya hidup modern. Ujung pangkal dari kondisi ini adalah hilangnya nilai, makna dan orientasi seni dan kesenian itu. Dan pada titik ini pula, seni seperti yang diperkirakan oleh kaum marxis, telah menjadi alat propaganda politik serta menjadi barang komoditas yang diperjualbelikan. 

 

Seni : Politik dan Zaman

Sebagaimana filsafat, seni merupakan sebuah kreasi yang bermula dari keinginan pikiran dalam mewarnai kehidupan. Proses ini, mengantarkan kita untuk menyadari bahwa posisi seni tentunya bukan sebuah hal yang lahir dengan begitu saja. Tapi, ia hadir karena sengaja dihadirkan oleh sekelompok manusia dengan dimotori oleh lingkup kehidupan sosialnya. Pada titik ini, Michel Foucault menyatakan, “bahwa dalam sejarah, manusia selalu memiliki system pemikiran yang mempengaruhi bagaimana pengetahuan dipraktekan”, jelas mengindikasikan bahwa sebuah kesenian, sejatinya lahir karena ada motif penguasaan yang bermain dibaliknya.

Pada tahap ini, kita tidak bisa menolak bahwa seni sejatinya juga memiliki hubungan dengan kekuasaan. Dalam kasus sastra aliran realisme sosialis misalnya, Lenin yang dikenal sebagai “pupuhu” kelompok sosialis Bolshevik (penguasa Uni Soviet) dengan tegas menempatkan seni (sastra khusunya) sebagai alat yang dapat memberikan perjuangan bagi partainya, sehingga ada beberapa kalangan yang menilai Lenin sebagai tokoh peletak dasar konsep (sastra) realisme sosialis.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, pertarungan konsep lukisan gaya realis dan surealis begitu memuncak ketika perang dingin antara Amerika (blok Barat) dan Soviet (blok Timur) memanas pada decade 60an-80an akhir. Pertarungan tersebut bukan hanya permasalahan konsep melukis belaka, tapi lebih dari itu, yakni pertarungan konsep ideology politik yang mendompleng dua kutub dalam seni lukis tersebut.

Disinilah kemudian kita bisa melihat, bahwa sebi sejatinya tak bisa dilepaskan dari konsepsi politik. Hal ini berjalan, karena konsep tentang seni merupakan sebuah pemikiran yang lahir sesuai dengan proses semangat zamannya, dan semangat zaman, terbiasa dibentuk dalam nuansa politik yang dikendalikan oleh ideology yang sedang berkuasa.

 

Seni : Kemana Arahnya

Tahap lanjut dari proses seni dan politik adalah tentang bagaimana arah seni kemudian. Seperti apa yang dituliskan diatas, problem berkesenian bukan hanya problem seni saja, tapi ia merupakan problem politik, karena dalam karya seni selalu terkandung nuansa identitas yang coba dikomunikasikan. Dan proses komunikasi inilah yang sejatinya juga membawa seni dalam ruang bernama politik.

Tapi kemahakan arah seni kemudian, jika memang kondisi politik menyertai seni! Pertanyaan ini sejatinya harus kita ajukan kembali pada lembaga-lembaga kebudayaan dan kesenian yang ada disetiap tempat. Hal ini berguna untuk menjaga “nilai, makna dan orientasi seni” itu sendiri. Hal ini penting dilakukan, karena seni kemudian dijadikan sebagai hal yang tak memiliki tiga hal tadi, dan berujung pada komersialisasi alias seni sebagai bahan dagangan yang bisa diperjualbelikan.

Jika fase ini tetap dijalankan, maka potensialitas kesenian--yakni nilai, makna dan orientasi--akan hilang digerus oleh kekuasaan modal yang bermain di wilayah seni. Jika tetap dibiarkan, pada akhirnya kita tak perlu was-was jika karya-karya yang dianggap “seni” tapi sebenarnya sampah yang tak bermutu seperti Kangen band, Kuburan, Radja, dsb, hadir mewarnai lingkup kehidupan manusia-manusia yang hanya membutuhkan seni sebagai hiburan.

 

Penulis: Mufti-Ali-Sholih

Penikmat seni, tinggal di Bandung dan Depok

 

LAST_UPDATED2
 

Add comment


Security code
Refresh


bottom

Powered by Resonans.