| Menggugat Sejarah, Melahirkan Kecerdasan |
| Selasa, 13 April 2010 11:07 |
|
oleh: Rendy Jean Satria* Sejarah adalah sebuah, kemandegan, ia gagal menyerupai manusia. Tak bisa di ajak kompromi secara parsial. Membagi sebuah pernyataan dengan hal yang absurd. "absurditas teks" cetus Albert Camus, filsuf Perancis. Dalam hal kemanusiaan pun, sejarah selalu di serang oleh hal-hal yang berbau agama dan mistifikasi metafisika. Kita harus cepat-cepat mendekontruksi hal yang paling dasar dari apa yang kita sebut sebagai sejarah itu. Kemuliaan atau kegagalan dalam berfilosofis. Kita harus mengapus pikiran kolektif konsep tentang sejarah. Tak ada yang namanya sejarah tentang metafisika, budaya, juga tentang politik. semuanya adalah hal yang bisa didekontruksi dengan dialektika yang sedikit berapi-api, berombak dan merensensi konsepsi stilisasi. Nietzsche, pada hal ini, memenangkan pertarungan ini. secara ironi dan tragis. Ia membabat konsepsi tentang sejarah agama, budaya juga politik. Nietzsche sebuah batu terjal. Yang bisa menyalip pandangan dasar filsuf sejarah Hegel. Saya menolak konsepsi sejarah Hegel, sebagai dasar memuliakan potensi sisi-sisi gelap sejarah, menjadi apa yang di sebut Nietzsche sebagai "kehendak untuk berkuasa" Sedikit getir, perkataan itu tapi diperlukan dengan sungguh-sungguh. Menjadikan sejarah sebagai kendaraan menuju nalar intelektualitas. Menjadikan sebuah positivisme sebagai verifikasi yang tak bermakna. adanya sejarah atau tidak sama-sama tak bermakna. Sejarah tak bisa menyerupai manusia. "Bahagialah orang yang tak punya sejarah" kata Dawson, seorang psikologi Amerika. Dengan kata lain, berfikir dengan nalar sejarah sudah tidak diperlukan. Nietzsche membaginya ini dengan cara berpantun tentang "bagaimana mengancurkan kesucian itu". Nietzshe adalah penantang abadi. Kini atau esok. sebuah simbol pertempuran atau perdebatan yang kreatif dalam ruang yang sangat sublim. Pikiran tentang agama, budaya dan seni adalah hal yang membuat sejarah di banggakan. di pedulikan dan diamini. Sejarah sudah mengancurkan kita secara individu, atau psikis menjadi buta makna. Radikalisasi di penjarakan. di selimuti oleh absurditas yang lesuh. Pemberontakan terhadap sejarah diperlukan untuk menampilkan manusia di puncak. Nietzsche adalah orang pertama di abad 20 yang sudah menaiki menara itu. Ketika Derrida, Foucault, Spencer atau Sartre baru sampai di gerbang pintu. Nietzsche sudah berdiri dimenara ideal sebagai manusia yang merdeka. Kemerdekaan, dalam menggugat sejarah adalah keharusan untuk menjadi manusia yang bebas dan tidak mengikuti alur pemikiran beragam. Hancurkan sejarah yang membuat kita mandeg dalam berfikir, tak ada yang namanya sejarah, yang ada adalah pemahaman tentang eksistensi yang paling sublim, paling intens, paling tersembunyi. Sejarah,, secara tidak sadar sudah meninakbobokan kita untuk besikap secara analistis maupun analitik. Kita selalu dibayangi oleh tabir-tabir sejarah yang menyeramkan, mengerikan dan penuh dengan kegetiran. Manusia di era modern ini, harus mendekontruksi secara liberal, tentang konsepsi sejarah, tentang hal yang selalu kita amini. Harus mengkutuk konsepsi sejarah, dengan pikiran terbuka. Mengambil sari pati dari penyakit misterius sejarah. Yaitu absurd! *mahasiswa tingkat III, jurusan teater |
| LAST_UPDATED2 |
