|
Oleh: Diki nugraha Kecerdasan musikal pada anak telah lama mendapatkan perhatian yang cukup dalam bagi para peneliti serta psikolog, kecerdasan musikal ini merupakan suatu kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal (Hernowo,2003,andai buku itu septong pizza,vii, Kaifa), sedangkan menurut Gardner “ kemampuan untuk merefleksikan kepekaan terhadap musik yang kemudian ditransformasikan dalam bentuk ketepatan pitch dan keselaran tempo dan ritmis” (Djohan,2003, Psikologi Musik, 92,) kecerdasan musikal ini di yakini memiliki hal yang cukup penting bagi manusia khususnya anak , karena kecerdasan musikal ini di yakini oleh para peneliti merupakan kecerdasan yang merupakan awal mula terbentuk pada manusia.
Keceradasan musikal ini meliputi 3 hal, antara lain Pitch , Rhythm, Timbre (Gardner), disini kita melihat bahwa ke 3 hal tersebut dapat meliputi ke segala genre musik apa pun, bahkan tidak di pungkiri lagi bahwa pernyataan Gardner tersebut pun memiliki relevansi apabila di jadikan acuan kepada karawitan terutama pada laras pentatonis, karena Gardner tidak menyebutkan bahwa hasil penelitiannya tersebut hanya untuk jenis-jenis musik tertentu. Kemampuan anak dalam membawakan lagu-lagu bertangga nada pentatonis sangat berkaitan erat dengan tingkat kecerdasan musikal yang dimilikinya, meskipun kemampuan itu di pengaruhi oleh pola latihan tetapi kepekaan anak dalam menangkap bentuk-bentuk musikal di pengaruhi oleh kecerdasan musikal, sedangkan faktor yang sangat mempengaruhi kecerdasan musikal ini adalah faktor lingkungan, maka tidaklah mengherankan apabila banyak anak yang kurang begitu menangkap bentuk-bentuk musikal dari lagu-lagu bertangga nada pentatonis di karenakan lingkungan yang begitu minim oleh lagu-lagu yang bertangga nada pentatonis, karena saat ini begitu gencarnya musik-musik yang bertangga nada pentatonis. Pada anak yang berusia dibawah 11 tahun memiliki sirkuit saraf yang cukup peka untuk dikembangkan kecerdasan musikal (Langstaff dan Mayer, Psikologi Musik, 91, 2003, Buku Baik Yogyakarta) maka sangat dimungkinkan apabila seorang anak yang diperdengarkan musik bertangga nada pentatonis pada usia tersebut akan memilikii kepekaan terhadap Pitch dan Irama lagu bertangga nada pentatonis, Langstaff dan Mayer menyatakan lebih lanjut “hal ini tidak menutup kemungkinan apabila pada usia tersebut seorang anak tidak di kembangkan kecerdasan musikalnya sama sekali maka pada saat anak tersebut menginjak usia dewasa maka anak tersebut akan menjadi tuna nada atau cacat nada artinya anak tersebut tidak memiliki kemampuan menangkap bentuk-bentuk musikal “. Seperti yang telah di ungkap sebelumnya bahwa kepekaan anak terhadap bentuk musikal laras pentatonis ini sangat di tunjang pula oleh faktor lingkungan yang mampu memberikan kontribusi yang cukup besar dimana faktor lingkungan adalah hal yang sangat dekat sekali dengan anak tersebut, sehingga apabila ada anak yang kurang begitu peka terhadap bentuk musikal laras pentatonis maka hampir dapat dipastikan bahwa lingkungan anak tersebut sangalah minim terhadap musik-musik bertangga nada pentatonis, terlebih lagi jika seandainya lingkungan anak tersebut sama sekali tidak tersentuh oleh musik apapun maka sudah dapat dipastikan bahwa anak tersebut akan mengalami apa yang dinamakan cacat nada atau tuna nada. Faktor bakat atau kemampuan turunan dari orang tua masih menjadi suuatu kontrodiksi yang masih menjadi suatu perdebatan meskipun ada pernyataan 3 psikolog yaitu Richard Howe, Jane Davidson, dan John Sloboda yang di kutip dalam buku psikologi musik menyatakan bahwa “manusia dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda untuk dapat mencapai kemampuan ke tingkat yang tinggi” artinya bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dalam bidang tertentu dan salah satunya adalah kemampuan dalam bidang musik, tetapi pernyataan ke 3 psikolog tersebut mendapatkan pertentangan salah satu jawaban yang agak dipertahankan adalah “intelegensi umum memiliki banyak komponen genetic, sedangkan kemampuan khusus yaitu salah satunya adalah musik adalah salah satu hasil dari kerja keras, latihan, serta pengalaman” artinya segala kemampuan dan keberhasilan anak dalam membawakan lagu-lagu yang bertangga nada pentatonis bukan atas dasar bakat atau faktor keturunan tetapi lebih merupakan hasil dari pengalaman dalam mempelajari lagu-lagu tersebut, serta latihan yang continue maka tidaklah mengherankan apabila maestro seperti Raden Machyar, Mang Koko, atau pun seniman-seniman yang berkecimpung dalam karawitan memiliki kemampuan yang begitu mahir dikarenakan faktor-faktor yang telah di sebutkan diatas. Maka dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa kecerdasan musikal anak terhadap laras pentatonis sangatlah dipengaruhi oleh faktor lingkungan artinya semakin besar kontribusi lingkungan terhadap perkembangan kecerdasan musikal maka semakin tinggi pula kecerdasan musikal yang di miliki oleh anak tersebut, kita dapat melihat contoh seorang Raden Machyar tentu tidak akan memiliki kepekaan yang tinggi dalam laras-laras pentatonis apabila beliau tidak hidup dilingkungan yang memang sangat minim oleh seni karawitan, sedangkan hipotesa bahwa kecerdasan musikal di pengaruhi oleh faktor bakat atau kemampuan turunan adalah merupakan hal belum terbukti kebenarannya di karenakan hipotesa tersebut belum memiliki bukti yang cukup kuat. |