top
logo

Komentar terakhir


Halaman depan Pilih Edisi 13 Menuju Titik Nol
Menuju Titik Nol
Jumat, 16 April 2010 13:20

Dalam era globalisme

Oleh : oki hermawan

 

Disatu sisi manusia memiliki kesamaan dengan spesies binatang, yang mempertahankan spesiesnya. Namun disisilain ia adalah, diantara ribuan spesies yang mempertahankan diri, satu-satunya cara mempertahankan dirinya yaitu bersifat merusak…

N. Tinbergen

 

            Berbagai cara telah dilakukan oleh manusia demi suatu perubahannya, namun dari sebuah arah gerak perubahan itu, akhirnya manusia telah membawa dirinya pada sebuah titik nol ; yang dimana manusia telah melakukan upaya untuk memperthankan ekosistemnya, namun dengan cara itu manusia telah membawa dirinya pada keadaan yang slalu mencemaskan. Niscaya usaha mencemaskan itu akhirnya dapat merapuhkan suatu pertahanan hidup manusianya itu sendiri.

            Tingkat perubahan kebudayaan melahirkan ilmu dan teknologi- ini mungkinan peluang manusia untuk mengubah lingkungan semakin besar, dengan demikian memungkinkan  pula manusia untuk melepaskan diri dari sifat ketergantungannya pada alam sekitarnya. Dengan demikian manusia telah merasa bahwa alam telah diciptakan untuk dirinya, maka dari bentuk kesadaran ini berintepretasi, bahwa alam itu harus ditaklukan demi kelangsungan hidupnya.

            Perubahan atau kemajuan dalam bidang kebudayaan telah menambah pula pada sektor kebutuhan manusia, sehingga dari bentuk perubahannya ini pun telah mengubah cara pandang manusianya-manusia menciptakan pakian bukan lagi untuk melindungi dari keadaan panas dan dingin, melainkan untuk sebuah gaya (fashion), mencari makan bukan sekedar untuk penawar lapar, melainkan untuk gengsi semata, penciptaan mol-mol, cafe-cafe, dan industri-industri semakin semerak, sehingga dari perubahan tersebut tercipta sebuah polusi udara, air dan tanah, dan polusi suara. Yang pada akibatnya lingkungan tidak dapat lagi mendukung, dan akhirnya terancam pula kehidupan manusia di bumi.

 

Berbagai ancaman polusi

 

Disatu sisi manusia telah menikmati sumbangan kemajuan teknologi dan ilmu yang telah berhasil menunjang kehidupannya, namun disisi lain manusia telah merasakan titik baliknya. Akibat tersebut bersama-sama dengan adanya peledakan penduduk yang telah menimbulkan krisis lingkungan manusia dengan berbagai akibat yang dirasakannya. Seperti :

Polusi udara :

            dalam globalisasi budaya tercipta berbagai perubahan pada tingkat biotik maupun abiotik, dengan demikian tercipta sebuah kehidupan kosmologi yang disharmonis. Polusi udara ini banyak terjadi di akibatkan oleh sektor-sektor industri. Lapisan oksigen tipis yang menyelimuti permukaan bumi rusak karena semakin meningkatnya polusi-polusi udara.

           

 

            Polusi udara ini dapat menyebabkan kerugian besar pada sektor pertanian dinegara kita. Polusi-polusi udara itu disebabkan oleh buangan industri dan asap  kendaraan bermotor atau mobil, dilakukan polutan ke udara dalam bentuk gas di antaranya gas karbon monoksida (CO), nitrogen oksida, belerang oksida, hidro karbon dan partikel padat. Bentuk ancaman yang ditimbulkan oleh sebab akibat ini yaitu ditandai dengan banyaknya gangguan kesehatan pada manusia dan lebih jauhnya lagi ini memungkinkan akan membunuh manusia dengan cara perlahan.

            Karbon monoksida dapat menyebabkan pekerjaan darah (butir darah merah) atau hemoglobin terganggu, fungsi hemoglobin yang ada pada butir darah merah untuk mengikat oksigen dan mengedarkannya keseluruh tubuh menjadi terganggu karena terikat CO pada hemoglobin. Akibatnya tubuh akan mengalami kekurangan oksigen yang sangat vital, sehingga jantung dan paru-paru akan bekerja lebih keras lagi untuk memberikan oksigen. Pengaruh ini cukup terasa akibatnya bagi penderita penyakit jantung dan paru-paru.

Polusi air dan tanah : polusi air di dalam tanah karena faktor pollutant tertentu seperti, diterjen, limbah, asam belerang,, pestisida, herbisida, dan nitrat itu, dapat membinasakan organisme yang terdapat pada tanah dan perairan yang sumbernya mempunyai peranan penting dari siklus materi pada suatu ekosistem. Sebagai gambaranya-pada satu gram tanah pertanian yang subur terdapat 2,5 miliard bakteri, 400.000 fungsi, 500.000 algae, dan 300.000 protozoa, kesuburan suatu tanah ditentukan oleh pross fisik dan kimia yang kompleks dari mahluk tersebut. Namun dari tingkat pollutannya yang tinggi jumlah mikro organisme itu banyak yang mati oleh sejumlah polusi air dan tanah. Jika jumlah pollutant ini lebih meningkat lagi maka akan mengancam bentuk suatu kehidupan, baik biotik maupun abiotik dengan demikian ekosistem yang satu sama lainnya saling berkaitan akan terurai, yang pada akhirnya ini akan mengancam pada kehidupan manusia itu sendiri.

Polusi suara :  

            tingkat suara dapat diukur sebagai mana halnya suhu. Dapat diukur dengan satuan desibel misalnya suara percakapan bisa berkekuatan 60db, dan bila meningkat jadi keributan tercatat 80db, kereta api 95db, bising pabrik 100db, dan petir atau halilintar 120db. Suara ini akan berpengaruh terhadap organ tubuh manusia, akibat yang akan ditimbulkan yaitu hilangnya daya pendengaran secara permanen, bila seseorang mendengar suara dengan kekuatan tinggi.   

            Suara dengan tingkat suara antara 50-55db akan menunda seseorang tidur dan merasa lebih lelah bila orang tersebut bangun kembali, suara dengan kekuatan 90db dapat berpengaruh terhadap saraf otonom (saraf tidak sadar) dengan gejala perubahan, tekanan darah, denyut nadi, konstraksi perut dan usus, sakit perut dan lain-lain.

            Pada saat ini kehidupan dikota terutama dikota besar dan didaerah industri terancam karena adanya berbagai jenis polusi. Hal ini disebabkan akibat adanya kemajuan teknologi yang pesat pada zaman globalisme ini. Kemajuan teknologi disatu sisi menguntungkan, namun disisi lainnya mempunyai efek yang negatif, siapkan kita untuk menerima perubahan yang berdapak negatif itu ?

LAST_UPDATED2
 

Add comment


Security code
Refresh


bottom

Powered by Resonans.