top
logo

Komentar terakhir


Puisi
Jumat, 16 April 2010 13:25

Bayangnya Di kampungku

 

Yang menari , di pematang sawah

 

Yang menari, di pematang sawah
Wajahnya begitu menawan 
Aku ingin membelainya rambutnya 
Disaat gerimis menyentuh sore
Nafasnya terdengar lirih.
Meredakan rinduku memeluk kupu-kupu
Tawanya begitu mempesona germicik air
Merdu membuka tabir sunyi 
Biarkan aku jatuh di peluknya 
Agar aku tahu makna malam yang sesunguhnya

 

 

 

Oleh: Muhamad Sulaeman

 

 

 Cerita:

 

 

Kapankah ? kilauan matanya menatapku
Sejak ribuan makna diciptakan 
Diriku sungguh mendambanya 
Tak ada lembaran sepi, setelah ruh dihembuskan 
Bisikan tentang kasih yang kurindu 
Dimalam yang lalu aku mengenalmu
Semerbak wangi misik, getar yang kita rasakan 
Perlahan menyusuri lembah bulan terang 
Hinggap ditebing tinggi, bersemi dengan gugusan langit 
Menghujam bumi , terpatri disisi sang azazil 
Lepaskan semua wujud, resapi merdu nyanyian daud.

 

Oleh: Muhamad Sulaeman

 

 

 Sebuah Pertarungan

 

 

Ada kata berdering dari gunung. “ Pertarungan sengit kembali terjadi.

Benarkah hidup adalah neraka?”

 

Ya, hidup benar adanya seperti itu adikku,

kita hanya menjalani takdir yang mungkin telah di gariskan

untuk besar dalam reruntuhan, amarah dan kata-kata kotor.

Kita dilemparkan ke dunia ini tanpa persetujuan.

Untuk berperang dengan diri sendiri dan orang lain.

 

Percuma saja kita menatap langit,

dan berteriak: Kehidupan memang biadab! Kali ini kita hanya

duduk termenung dalam ruang kebencian, jiwa berontak

saat bahasa-bahasa najis itu menghajar telinga.

Sebab, orang  bergelimang dalam kegelapan:

Berlari melenyapkan tumpukan uang kemudian  diam –melemparkan

dosa pada yang lain.

Benak laki-laki itu tidak singgah di sebrang waktu,

dan memaknai kata jika dan maka.

Sementara kita hidup sendiri-sendiri dengan

biografi yang sama. Dilahirkan disini, hasil persenggamaan

tanpa kesucian. Kita adalah korban naluri.

 

Kali ini maknai peperangan itu sebagai jalan kita menuju surga.

 

2008

 

Gun Gun Nugraha, lahir di Garut 5 Desember 1981. Aktivis teater, pencipta dan pengagum pikiran-pikiran eksperimen, wartawan, pecinta sastra, dan mahasiswa teater 2003.Ia berseru: ”Kelak dunia akan tunduk!”

 

 

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh


bottom

Powered by Resonans.