| Puisi |
| Jumat, 16 April 2010 13:25 |
|
Bayangnya Di kampungku
Yang menari , di pematang sawah
Yang menari, di pematang sawah
Oleh: Muhamad Sulaeman
Cerita:
Kapankah ? kilauan matanya menatapku
Oleh: Muhamad Sulaeman
Sebuah Pertarungan
Ada kata berdering dari gunung. “ Pertarungan sengit kembali terjadi. Benarkah hidup adalah neraka?”
Ya, hidup benar adanya seperti itu adikku, kita hanya menjalani takdir yang mungkin telah di gariskan untuk besar dalam reruntuhan, amarah dan kata-kata kotor. Kita dilemparkan ke dunia ini tanpa persetujuan. Untuk berperang dengan diri sendiri dan orang lain.
Percuma saja kita menatap langit, dan berteriak: Kehidupan memang biadab! Kali ini kita hanya duduk termenung dalam ruang kebencian, jiwa berontak saat bahasa-bahasa najis itu menghajar telinga. Sebab, orang bergelimang dalam kegelapan: Berlari melenyapkan tumpukan uang kemudian diam –melemparkan dosa pada yang lain. Benak laki-laki itu tidak singgah di sebrang waktu, dan memaknai kata jika dan maka. Sementara kita hidup sendiri-sendiri dengan biografi yang sama. Dilahirkan disini, hasil persenggamaan tanpa kesucian. Kita adalah korban naluri.
Kali ini maknai peperangan itu sebagai jalan kita menuju surga.
2008
Gun Gun Nugraha, lahir di Garut 5 Desember 1981. Aktivis teater, pencipta dan pengagum pikiran-pikiran eksperimen, wartawan, pecinta sastra, dan mahasiswa teater 2003.Ia berseru: ”Kelak dunia akan tunduk!”
|
