top
logo

Komentar terakhir


Halaman depan Pilih Edisi 13 “Sang ilusionis – televisi”
“Sang ilusionis – televisi”
Jumat, 16 April 2010 13:29

Oleh : Oki Hermawan

 

Sebuah Kotak  kecil adalah sebagai dunia realitas masyarakat yang kedua, alat tersebut mampu menghadirkan segala sesuatu yang bersifat hayalan menjadi kenyataan, sehingga ini memungkinkan setiap masyarakat penontonnya untuk menjadi sang ilusionis yang lupa akan daratan, layaknya seperti anak kecil yang tidak ingin lepas dari mainanya kesayangannya.

 

Sebuah kotak ajaib yang mampu menampilkan berbagai macam fenomena menjadi dunia realitas masyarakat yang kedua. Berbagai berita dan informasi dari segala produk tampil memukau dan menggairahkan sehingga ini memungkinkan untuk memancing sebuah hasrat dasar manusia untuk ingin memperoleh sebuah benda yang terdapat dalam kotak ajaib tersebut. Entah sesungguhnya apa yang mereka lakukan dengan alat tersebut, namun yang saya ketahui, kotak ajaib itu bebar-benar sakti, dan ketika saya melihatnya pun merasa terheran-heran dan membuat saya untuk slalu terpikirkan, yaitu tentang bagai mana caranya, orang dengan jumlah yang banyak bisa masuk dalam kotak sekecil itu dan yang lebih ajaibnya lagi para penonton sepakbola yang sedang menyaksikan secara live atau langsung atau juga orang-orang yang sedang main sepak bola bisa masuk kedalam kotak ajaib itu, kenapa Ya ?

dan yang membuat saya lebih heran lagi, disana saya bisa melihat seorang malaikat yang bersayap, berpakain seksi rambutnya panjang warna kulitnya putih (cantik berdasarkan nilai yang mereka ciptakan sendiri), malaikat itu rupanya tampil dengan wujud yang sempurna dan menakjubkan, lalu yang saya lihat lagi bahwa ditangan malaikat itu membawa sebuah benda atau produk, namun saya kurang begitu tahu apa yang dibawanya itu.

 

Hal yang membuat saya menarik lagi yaitu saya bisa melihat berbagai fenomena pembunuhan, perampokan, pemerkosaan,penganiayaan, pencurian…pokoke kotak kecil yang ada dihadapan saya ini benar-benar membuatku merasa heran, dan bertanya kenapa ? karena dari berbagai aksi, berita dari berbagai kisah-kisah manusia, kisah para malaikat yang turun kebumi, hingga cara bertemu dengan Tuhan sekalipun disini bisa saya saksikan dan saya dapatkan caranya dengan mudah. Kata kotak kecil itu bila saya ingin jadi orang kaya atau menjadi sang milioner, atau ingin mengetahui tentang kalir, kisah percitaan hingga impormasi tentang kapan saya mati, dan bisa masuk surga, tingal ketik REG spasi nama lalu kirim massage tersebut kenomor XXX. Sungguh, ini kalau menurut saya sangat sakti sekali karena apa-apa yang saya inginkan disini saya bisa memperolehnya dengan mudah (berimajenasi)

Hanya satu rahasiah kode cara untuk mendapatkan produk tersebut yaitu UANG…uang adalah segalanya, bagi masa uang adalah simbol yang melebihi segalanya, “begitulah filsafat mereka”

 

Ya…itu lah yang bisa saya lihat dari kotak kecil ajaib itu, sebenarnya masih banyak halnya lagi. Dari sekian banyak tayangan-tayangan yang ada ditelevisi entah apa itu yang sifatnya menghibur atau mengiformasikan tentang sesuatu hal, itu akan menjadi sebuah wujud memetic negative yang bisa merubah system nilai, sosialisasi dan mentalitas budaya kita (televise menciptakan system-sistem nilai yang baru ; religi, mitologi, dan idiologi), yang mampu mengarahkan masyrakat kita menuju kearah masyarakat konsumerisme dan masyarakat tontonan. Masyarakat konsumerisme yaitu masyarakat yang menciptakan nilai-nilai berlimpah-ruah melalui barang-barang consumer, serta menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan yang utama. Sedangkan masyarakat tontonan yaitu masyarakat yang hampir segala aspek kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan kehidupan.

 

Kotak kecil ajaib tersebut merupakan sebuah alat atau media yang berfungsi sebagai alat untuk mengelabuhi dan menyihir masa peninkmatnya, proses kerja aktualnya yaitu mampu menghadirkan atau menciptakan kembali sebuah hasrat yang sifatnya mendasar  yaitu hasrat sexsualitas. Kecanggihan alat tersebut yaitu memampukan merubah dengan sangat cepat sebuah hasrat untuk selalu berganti-ganti model dari satu hasrat, kehasrat yang lainnya. Ini merupakan sebuah bentuk idiologisnya, tujuan atau targetnya yaitu menjadikan masyarakat agar mengkonsumsi suatu benda secara menggila dan berlebihan. Selain itu juga mereka mengambil sebuah sistem-sistem nilai yang dimiliki masyarakat penikmatnya (agama, mitologis dan idiologi), pengambilan ini tidak secara subtansial untuh namun hanya sebagian dari permukaannya saja, ─ mereka hadirkan dunia nilai dari masyarakat tersebut dengan segala bentuk yang telah direkayasa oleh para elit idiologi ; dengan demikian  masyarakat menjadi mudah untuk percaya terhadap produk-produk yang mereka ciptakan, contoh kasusnya mereka memproduksi sejumlah tayangan yang berbau misteri, religi, hiburan dll, usaha ini juga diperkuat oleh pencarian bentuk-benruk ikon yang memampukan agar masyarakat mudah percaya, sehingga produk yang ditampilkannya berbentuk atau yang bertemakan, yang hadir dari system social atau nilai masyarakatnya yang sedang berlaku pada saat itu, yaitu seperti tentang seorang malaikat yang baik turun kebumi ( dalam sebuah dunia periklannan dengan memakai model wanita atau laki-laki), Tuhan yang sangat pemurah, rahsiah illahi, kuntilanak beranak dalam kubur, my hart-persi layar lebar, dan sinetron, I love Om, sientong dll, (produk film). Produk-produk tersebut hanyalah sebuah produk dari dunia mimpi, dusta,virtual dan hiperealitas. konteks nilai yang aslinya hilang, lalu mereka ciptakan sendiri system nilainya yang baru. Apakah benar  ini merupakan tayangan yang seutuhnya mendidik masyarakat ?

 

Jika halnya demikian saya jadi teringat dengan sebuah mitos yunani dari zaman besi ; seiring dengan pergantian generasi mereka berkembang kearah yang lebih buruk, suatu saat ketika mereka berkembang sedemikian jahatnya hingga mereka memuja kekuatan ; kebenaran bagi mereka dan penghormatan pada suatu kebaikan takan ada lagi, pada akhirnya manakala manusia tidak lagi marah terhadap pelanggaran atau tidak lagi malu terhadap hal yang memalukan. Ya…! mungkin mitos itu kini sesuai atau berlaku dengan keadaan zaman kita sekarang, Dimana sesuatu hal yang sifatnya baik dan buruk tidak begitu jelas lagi.

 

Dari sekian banyak tayangan televisi yang ada, hanya sedikit sesuatu tayangan yang sifatnya mendidik atau mengarahkan masyarakatnya pada dunia “pengetahuan”, kebayakan dari stasion televisi memberikan sejumlah tayangan yang sifatnya hanya sekedar mehibur saja, bila saya persentasikan kurang lebih, acara televisi yang sifatnya menghibur sekitar 40%, berita yang kurang begitu berarti ( gosip, pembunuhan, perampokan, pencurian, tindakan chaos dll yang disajikan secara berlebihan) sekitar 40%, tayangan yang berbau sex 15% dan sisanya 5% yaitu tentang pendidikan(kecenderungan ini muncul dari tv-tv suasta). Apabila kita lihat persentasi tersebut, maka wajar saja apabila problematika diwilayah kita semakin komplek dan terpuruk adanya, karena hal tersebut lebih didominasi dengan tayangan hal-hal yang sifatnya tidak begitu signifikan yang tidak mendidik masyarakatnya.

 

Televisi dalam masyarakat dijadikan sebai dunia kedua mereka, apabila sejumlah tayangan di tv-tv memberikan sesuatu hal yang kurang berarti maka apa yang akan terjadi dalam  masyarakat kita yang akan mendatang ? apabila kita mau memperhatikan, kita mengenal televisi pada masa kini yaitu menyuguhkan pesan-pesan majemuk yang tidak begitu terkontrol, seolah-oalah bahwa alat tersebut akan memampukan publikya bisa berubah secara revolusi kearah yang lebih seragam menuju atau menembus dunia virtual kasat mata. Nilai-nilai yang diciptkan adalah nilai-nilai yang berasal dari ruang mimpinya sendiri dan nilai yang mereka ciptakannya pun hanyalah nilai-nilai yang temporal dan absurd. Dunia televisi bagaikan dunia yang memungkinkan berbagai bentuk imajenasi menjadi sesuatu bentuk yang nyata dan mampu membuat merangsang sugesti masyarakatnya sesuia dengan nilai-nilai yang diciptakannya. Nilai-nilai yang diciptakannya pun cenderung pada model-model imitasi dari berbagai gabungan konsep nilai-nilai dari berbagai budaya yang begitu kurang jelas referensinya.

 

Seharusnya sitem media masa atau televisi ini dibatasi dari hal-hal yang sifatnya negative, karena walau bagai manpun juga bahwa sejumlah tayangan yang ada ditelevisi itu bisa, mempengaruhi suatu perubahan sikap terhadap publik dengan sangat mudah dan cepat, dan seharusnya pemerintahan kita sudah mulai lebih serius untuk memperhatikan hal ini, jika fenomena ini dibiarkan saja, maka suatu keterpurukan bangsa kita akan terus bertahan lebih lama lagi. Televise adalah sebuah sarana atau alat untuk menyampaikan sebuah pesan dari objek terhadap subjek dan ini mempunyai fungsi yaitu, untuk memampukan mencerdaskan kehidupan bangsa, jika televise ini menyuguhkan sesuatu hal yang sifatnya mendidik maka ini akan mengurangi sejumlah problematika kekrisisan eksitensi sumber daya manusia Indonesia.

 

Apa bila ini kita renungkan kembali, tampaknya suatu tayangan yang ada itu untuk bisa berubah, hanya ada dalam kemungkinkan yang sangat tipis, dan inipun takan pernah bisa untuk menjadi kritik yang finansial, karna ini sudah menjelma menjadi sebuah lingkaran setan yang berbentuk kearifan idiologi ekonomi. lantas jika halnya demikian bagai mana nasib masyarakat yang terkena dampak negative dari televisi ini ?

Idiologi dikatakan oleh marx yaitu sebagai ilmu tentang kesadaran palsu (false consciousness). Idiologi selalu menciptakan pada diri setiap orang sebuah lukisan palsu yang diciptakan oleh para elit idiologi.

LAST_UPDATED2
 

Add comment


Security code
Refresh


bottom

Powered by Resonans.