| Titik Balik Modernisme |
| Jumat, 16 April 2010 13:35 |
|
Menjadikan seni tradisi (karawitan sunda) sebagai ruang imajenasi virtual fatamorgana tanda
Oleh : Oki Hermawan
“Dalam sebuah kehidupan yang tertutup berubah menjadi sebuah kehidupan yang transparan, dari yang sacral beralih keyang propan, dari yang rasioanl beralih kehasrat, dari yang realitas beralih ke hiperealitas, sepertinya budaya tradisi memutasikan dirinya menjadi sesuatu hal yang baru namun bersifat temporal,… dan menggandakan dirinya sendiri yang lebih menitik beratkan bentuk mengimitasi dari imitasi.” (oki.H) “Kode adalah sebuah perspektif kutipan-kutipan, sebuah fatamorgana struktur ; kita hanya mengetahui keberangkatan dan kedatangannya.” (Roland barthes)
Dalam kehidupan globalisasi atau modern ini, berbagai fenomena dan problematika budaya yang hadir kehadapan kita semakin kompleks adanya, seolah-olah budaya kita sekarang ini dijadikan sebuah tempat untuk berlabuhnya berbagai jenis kebudayaan, budaya pada masa sekarang lebih cenderung mengidentitaskan dirinya sebagai hasil dari bentuk citraan-citraan budaya asing yang tidak jelas referensinya, entah itu yang datangnya dari dunia timur ataupun dunia barat. nilai dan makna kontek budaya asli telah hilang atau menjauh dari sisi kehidupan generasi pada kontek masyarakat saat ini, seolah-olah nilai dan pemaknaannya itu tidak bisa kita temukan lagi dari wujud yang aslinya, dan yang tertinggal kini hanyalah sebuah bentuk sejarah budaya yang dipenuhi dengan cerita dongeng-dongeng yang kosong saja. Dimanakah wujud identitas budaya kita yang sesungguhnya ? apakah kita disini berdiri sebagai orang timur, barat, atau sundakah ? Dari sebuah pergerakan arus perubahan yang begitu cepat, model-model yang tercipta dimasa lalu menampakan dirinya menjadi sebuah mitos yang bersifat fantasi dan hayalan saja, kini kita hanya bisa mengetahui tentang keberangkatan dan kedatangannya saja, setelah itu jejaknya hilang dan tidak berbekas, tertiup oleh fragmentasi budaya-budaya asing yang begitu imperialisme. Apabila kita kritisi Sepertinya sistem paradigma modern pada masa sekarang ingin menciptakan dunia simulasi atau sebuah dunia penciptaan bentuk nyata melalui model-model yang tidak ada asal-usul atau referensi realitasnya, sehingga ini memampukan manusia untuk membuat sesuatu hal yang supranatural, ilusi, fantasi, khayali menjadi tampak nyata. Nilai-nilai kearifan lokal budaya dalam seni kini dikemas menjadi bentuknya yang baru, yaitu menjadi gaya seni yang berlebel kitsch, namun dari bentuk kebaruannya ini hanya sebagai bentuk imitasi yang kurang begitu signifikan karena ini telah mengaburkan sebuah makna dari kontek seni yang aslinya, yang tidak lama lagi model tersebutpun akan cepat usang tertelan waktu kemudian tergantikan lagi dengan modelnya yang baru pula. Dalam masa modern sekarang ini kita dihadapkan dalam kehidupan globalisasi yang bergerak begitu cepat, sejarah sepertinya sedang memutasikan diri menjadi kode-kode digital atau mesin-mesin mekanistik yang canggih dan mutahir. Dalam hal ini manusia telah menciptakan alat, tanda dan simbol, baik itu dipergunakan untuk bentuk kepuasan kehidupannya maupun untuk sarana komunikasi diantara manusia dengan manusia yang lainnya. Penyebar luasan hasil produk temuannya ini didukung oleh pasilitas teknologi seperti, radio, televisi, media surat kabar, majalah, internet, komputerisasi dll, dengan demikian usaha pengglobalisasian budaya modernisme menjadi terarah dengan cepat dan mampu menyamaratakan bentuk budaya yang prulal menjadi budaya yang homogen. Dalam hal ini kita harus perhatikan dengan sikap yang kritis dan teliti, apakah sebuah perubahan itu akan membawa peradaban kita kearahnya yang lebih baik ataukah sebalaiknya ? terus apakah bentuk perubahan itu sudah sesuai dengan kondisi mentalitas budaya kita ? sudah siapkah masyarakat kita untuk menerima perubahannya dengan sangat cepat ? Fenomena atau problematika tersebut diatas hanya sebagian wujud kenampakan kecil saja. Apabila kita teliti sebenarnya masih banyak permaslahan-permasalahan yang harus kita pikirkan bersama, dan mencari bagaimana solusi-solusinya yang tepat, entah itu permasalahan dunia perekonomian, pendidikan, politik, seni dsb. Jika fenomena tersebut kita tinjau dari aspek budaya, maka perubahan zaman atau pembangunnan itu tidak lain adalah sebagai usaha sadar untuk menciptakan kondisi hidup manusia kearah yang lebih baik, menciptakan hidup yang lebih serasi, menciptakan kemudahan atau pasilitas agar kehidupan itu lebih sempurna baik secara material maupun spiritual (berdasarkan pancasila), namun pada keyataannya ini hanyaalah sebagai wujud bentuk system paradigma yang mengarahkan kita untuk menjadi masyarakat konsumerisme, dan yang kelanjutannya ini memungkinkan menjadi sebuah wujud dunia yang hiperealitas, layaknya seperti dinegara-negara dongeng yang memiliki tingkat kemajuan teknologi yang sangat tinggi, yaitu seperti dinegara-negara industri besar. Bila kita lihat dalam kenyataannya, padahal belum tentu Negara yang kita tiru itu, memiliki tingkat kesuksesan yang sempurna, baik secara moral maupun spiritual. Suatu Pembangunan akan membawa suatu perubahan dalam diri dan sikap mentalitas budaya, masyarakat, dan lingkungan hidupnya, seiring dengan laju waktunya, terjadi pula proses atau gejala dinamika masyarakat yang begitu cepat, dengan demikian maka akan tercipta segala sesuatu bentuk perwujudannya yang baru pula. Pembangunan melihat manusia sebagai mahluk budaya dan sebagai sumber daya dalam pembangunan, maka halnya bahwa pembangunan itu seharusnya mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia, menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bangsa, menumbuhkan sikap yang seimbang, berkepribadian utuh, memiliki moralitas serta integritas sosial yang tinggi, namun pada kenyataannya itu hanyalah, merupakan sebuah bentuk utopis dan imperialisme budaya para elit idiologi. Pergerakan perubahan ini nampaknya menjadi sebuah titik balik yang tidak bisa kita pertahankan lagi, yang pada akhirnya muncul sebuah bentuk tindakan pendistorsian atas budaya tradisi atau bentuk imperialisme budaya, yaitu seperti adanya sejumlah kebudayaan asing yang lebih kuat untuk mendominasi golongan masyarakat kita, sehingga ini memungkinkan generasi masyarakat kita akan kehilangan kepribadian dan identitas budayanya, dan yang lebih sempurnanya lagi bentuk-bentuk imitasi dari budaya lain yang sudah diserap oleh masyarakat kita, nantinya akan menjadi jati diri atau identitas budaya kita dimasa yang akan mendatang. Dari bentuk fenomena tersebut teryata mengakar lebih jauh lagi pada permasalahan atau problematika tentang dunia seni tradisi kita, yaitu dimana Bentuk kearifan seni lokal budaya kita kini, sedang memutasikan diri menjadi bentuk-bentuk seni yang modelnya menjadi seni yang berbau parodi dan kitsch. Dalam kontek budaya modern seni tradisi kita dikemas kedalam bentuknya yang baru, usaha ini bukanlah sebagai usaha atau cara untuk melestarikan nilai-nilai tradisi, namun usaha ini hanyalah sebagai tindakan, yang memalsukan bentuk citra yang aslinya, atau ini juga bisa dipandang hanya sebagai tindakan yang sekedar untuk mengenang sebuah momen dimasa yang telah usang dan lapuk. Wujud atau citra seni yang lahir dizaman modern lebih cenderung menitik beratkan pada sebuah penggayaannya saja(ektasi dalam tingkat penanda), objek yang hadir kepermukaan itu hanya merupakan sebuah bentuk atau wujud dari seni yang pernah hidup dizaman dahulu, namun dikemas lagi menjadi sesuatu yang baru yang lebih bersifat transparan. Wujud seni tradisi yang kongkrit, yang dikemas atau dihadirkan kembali dalam konteks masa sekarang yaitu seperti seni tembang sunda cianjuran, wayang golek, pojok sicepot, musik pop sunda dan lain sebagainya. Seni-seni tradisi dalam budaya kita mempunyai pesan-pesan yang sangat signifikan, wujud itu disimbolkan kedalam bentuk-bentuk kesenian tradisi kita, upaya dari bentuk perwujudan ini yaitu agar supaya masyarakat kita dizaman sekarang bisa mengambil pelajaran dari bentuk-bentuk kearifannya, sehingga dari bentuk transpormasi ini bisa membantu untuk menambah atau memperkaya wawasan manusia untuk hidup didalam kosmologinya. Konsep-konsep symbol itu mempunyai makna-makna spiritual tentang dunia transedendal, dan tentang filsafat kehidupan yang dimana didalammya menjelasakan tentang sebuah perjalanan hidup hingga sampai akhir kehidupan seorang manusia atau dengan nama lainnya yaitu mengenai konsep hidup Rawayanjati (konsep falsafah orang sunda). namun dalam kontek yang sekarang seni tradisi kita kini sudah berubah fungsinya yaitu dari sifatnya yang sacral memjadi propan, dari yang tertutup manjadi transparan, dari yang realitas menjadi yang hiperealitas, sepertinya budaya tradisi kita sedang memutasikan dirinya menjadi seni yang baru namun bersifat temporal, imitasi dan kitsch. Kecenderungan usaha ini adalah sebagai bentuk kombinasi dari berbagai citraan yang disebabkan oleh arus titik balik modernisme, yang mengglobalisasikan atau menyamaratakan bentuk-bentuk kesenian tradisi, menjadi kesenian yang umum dan bersifat masal. Usaha ini diperkuat dengan sebuah perkembangan teknologi yang canggih seperti radio, media cetak dan tv. Dari sebuah penjelasan diatas bukan bermagsud untuk menolak sebuah tingkat kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan dan perubahan kesenian itu sendiri, namun yang menjadi titik tolaknya yaitu, muncul bahwa fenomena atau problematika tersebut sudah tidak lagi mengakar pada pengertian tentang teknologi, ilmu pengetahuan, dan seni yang sesungguhnya.
Kehadiran konteks seni tradisi dizaman modern sudah tidak mencitrakan yang aslinya, seni yang lahir dizaman sekarang cenderung menggunakan sebuah pendekatan gaya yang menjungjung tinggi kebaruan dan keotentikan, sedangkan permasalahan makna atau isi dalam bentuk kesenian itu sendiri sudah tidak dihiraukan lagi, dan yang hipernya lagi bentuk ini lebih dititik beratkan pada sebuah tindakan yang sifatnya hanya sekedar untuk menghibur atau hanya sekedar untuk mengenang bentuk-bentuk kesenian dimasa lampau yang mampu menumbus sejarah masa lalu. Gaya seni yang demikian lebih cenderung memiliki kandungan isi yang bersifat homogen dan temporal. Konteks seni yang lahir atau yang telah direkontruksi dizaman modern ini menjadi bersifat terbuka atau bersifat open culture bagi berinteraksinya dan bersimpang siurnya berbagai gaya dari berbagai seniman, periode, zaman kebudayaan dan lain sebagainya. Titik balik modernisme, merupakan sebuah ruang yang bersifat transparan artinya bahwa ruang budaya tradisi kita, menjadi sebuah tempat yang bebas untuk dimasuki oleh berbagai kebudayaan, entah apa itu sifatnya yang positif maupun yang negative, yang didalamnya terdapat ribuan kombinasi citraan yang saling tumpang tindih dan saling bertabrakan satu sama lainnya mengenai : berbagai konsep, pemikiran, gagasan yang saling bersinggungan, satu sama lainnya menbentuk fragmentasi kebudayaan ; ribuan tanda dan kode-kode yang berasal dari berbagai zaman, tempat dan kebudayaan saling berinteraksi, muncul dan hilang dengan waktu yang sangat cepat. Disatu sisi bahwa perubahan zaman itu telah membantu untuk berkembangnya seni-seni tradisi, namun disisi lain perkembangan itu pula telah dibatasi dengan waktu yang relative begitu singkat, sehingga ini memungkinkan untuk menciptakan kreativitas seorang seniman itu, harus berpegang pada sebuah system produksi kesenian yang popular dimasyarakatnya. Sehingga citra dibalik kesenian harus memfokuskan dirinya pada sebuah bentuk atau gaya-gaya yang sedang mendominasinya, dengan demikian berarti usaha tersebut akan mematikan sebuah bentuk-bentuk keragaman estetik budaya dan keragaman kreativitas para seniman kita. Kehadiran seni tradisi dizaman modern telah kehilangan arti seninya itu sendiri, karena dalam konteks zaman sekarang yang diutamakan adalah masalah bentuk material dari kesenian itu, sedangkan konteks masalah tingkat pemaknaan dan isi menjadi sesuatu hal yang tidak lagi diutamakan. Seni tradisi dalam kontek sekarang merupakan sebuah kesenian wujud yang palsu (pseudo) yang didalamnya terdapat beberapa konsep yang absurd, dan bersifat parasit artinya sebuah kesenian tradisi dipalsukan dengan tanda yang lainnya, sehingga tanda yang asli menjadi sesuatu yang baru dan sifatnya yaitu mengaburkan dari makna yang aslinya. dalam kecenderungannya menghadirkan bentuk-bentuk seni dimasa lalu, dihadirkan kembali pada masa ruang dan waktu yang berbeda, dan tanda yang mereka hadirkan bukanlah pada konteks makna dari kesenian masa lalu, melainkan mengambil atau meminjam bentuk gayanya saja. Sehingga kecenderungan yang ada ini hanyalah sebagai bentuk pendistorsian makna dalam konteks seni masa lalu. Akan tetapi dibalik semua fenomena itu terdapat sesuatu titik yang terang, titik terang ini adalah bahwa seni modern telah mampu menjauhkan seni tradisi dari segala sifat kemapanan, kebuntuan kreativitas, keangkuhan, kesempurnaan dan sifat etnosentrisme. seandainya jika fenomena atau problematika tersebut bisa diambil hikmahnya, dan dijadikan sebagai satu pijakan dalam merokontruksi apa yang telah direkontruksi, mungkin ada sebuah kecenderungan bahwa seni-seni yang ada dizaman modern menjadi seni tradisi yang bisa merangsang intuitif masyarakatnya, seni tradisi yang mampu lebih bersifata kritis terhadap fenomena dan problematika yang hadir, menjadi seni tradisi yang signifikan (sarat makna), dan akan kembali pada konteks dasarnya, yaitu bahwa seni itu merupakan sebuah lembaga kebenaran yang sama halnya seperti, ilmu, agama dan filsafat. Budaya dan masyarakat kita pada zaman ini sedang mengalami sebuah gejala krisis mutidimensi, dimana masyarakat kita menjadi masyarakat tingkat konsumer, masyarakat tontonan atau masyarakat yang hampir dari segala aspek kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan, dan menjadikannya bentuk tontonan itu sebagai rujukan nilai dan tujuan kehidupannya. Jika halnya demikian, apakah seniman kita akan tetap menciptakan dunia kreativitasnya merujuk pada sebuah referensi-referensi yang berbau kitsch, ilusif, halusinasi, kontradiktif atau yang hiperealitas sekalipun…sejarah tiadak bisa kita ulang-ulang, namun sejarah itu harus kita bentuk dan dibuat.***
Oki Hermawan:Pengamat Budaya, Musisi, dan Alumnus Jurusan Karawitan 2009.
|
| LAST_UPDATED2 |
