top
logo

Komentar terakhir


Populerkah?
Selasa, 09 Pebruari 2010 23:14
 “Perlakuan penjajah sudah mengakar lalu menjadi daging di tubuh negeri ini. Disadari atau tidak kita masih terperangkap dalam literatur ganasnya materi sajian masa lalu. Cerita masyarakat yang tanpa bukti, kepercayaan masyarakat yang sudah terbukti, dipojokan dalam suatu wadah yang dinamakan pemberontak dan penyimpangan Agama.
Agama dan keselamatan ditawarkan seperti enaknya roti hangat, basis-basis dibentuk atas nama partai, LM, penguasa, dan lebih parah lagi yang mengatasnamakan Agama. Masyarakat pun sudah tidak buta lagi, pada masa kekuasan penjajah, para gerilyawan yang menuntut kemerdekaan Timor-Timur (Frente Revolucionaria do Timur Leste Indepedente atau Fretelin), masa Presiden Soekarno dan masa Presiden Soeharto yang saat itu kerucut pemberontakan pernah muncul ke permukaan. Maka tak heran bila paska reformasi menjadi tulang punggung keselamatan bangsa”.

Kata-kata seperti itulah yang sering muncul di media-media bila sedang diadakan diskusi, misalnya diskusi soal politik, partai, reformasi, penjajahan, sampai harga tempe dan tahu naik, yang lumayan merepotkan bagi kalangan masyarakat, terlebih lagi bagi anak kost seperti saya ini.

Dari pada membahas lebih jauh persoalan politik dan Pilkada yang terus mencoba mengunjungi satu titik, yaitu mensejahterakan masyarakat. Mari sejenak kita menengok budaya yang belakangan ini banyak diperbincangkan, misalnya Wisma UNPAD mengadakan seminar dan diskusi mengenai budaya dan lain-lain. Hal itu dipertegas oleh M. Habib Mustopo dalam buku Ilmu Budaya Dasar mengatakan “Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa, lebih-lebih jika bangsa itu sedang membentuk suatu watak dan kepribadiannya yang lebih serasi dengan tantangan zamannya”. Berbagai kenyataan yang terjadi pun sangat meresahkan negara kita. Seperti Angklung yang diakui oleh Malaysia, arca-arca yang dipalsukan, dijual, dan lukisan yang diselundupkan. Dari kejadian-kejadian seperti itu masyarakat mulai menyadari dan merespon secara positif seberapa penting dan luasnya budaya itu.

Lalu kalau kita membaca Musik Pop Kapital, Kapital, dan Kapital (baca; Majalah Gong edisi 86/V111/2006). Disitu akan menemukan kritik pedas terhadap musik populer, musik popular seolah ditempatkan pada posisi offside, tak bisa masuk pada posisi sejahtera di kalangan musik idealis. Namun nasib musik progresif berkata lain. Setutut pesohor subkultural Dick Hebdige “Musik progresif berubah menjadi semacam”label” yang harus berkompromi dengan pasar. Banyak musisinya beralih ke lagu-lagu ringan, gampang, dan laku dipasaran”. Musikus besar Indonesia Suka Harjana mengatakan “kata populer (populis; masyarakat kebanyakan) terkenal secara luas sekitar tahun 1950 atau awal 60).

Walau hanya berbekal akor dur, mol dan sedikit sentuhan nada ke tujuh, ditambah dengan lirik yang berbau sedih dan sedikit diwawaas (Sd. didramatisir), musik populer terus eksis, asik melenggang dan cuek menempati selera masyarakat, tak masalah itu mungkin untuk dunia entertainment yang hanya memperhitungkan selera pasar saja. “Globalisasi dalam bidang musik sudah nampak sejak munculnya media massa dan berbagai konglomerat dengan tujuan tertentu, yaitu tujuan komersial “ , Dieter Marck (Pendidikan Musik, Antara Harapan Dan Realitas, UPI Masyarakat Seni Pertunjukai Indonesia) hal 2. Namun kalau kita tengok masa hidupnya Karawitan Tradisional Kereasi Baru (modern) yang dimulai tahun 1935 (menurut MA. Salmun dalam bukunya “Padalangan”), pada masa itu walau hanya media berita di radio cukup mempopulerkan lagu-lagu kreasi baru. Misalnya Nyi Mursih, dengan lagunya Es Lilin. Lagu tersebut sangat populer bukan hanya di kalangan masyarakat Sunda, tapi orang Belanda, Arab, Tionghoa, Bahkan anak-anak Jepang pun suka menyanyi lagu Es Lilin (Baca; Pengetahuan Karawitan” Latar Belakang dan Perkembangan Karawitan Sunda, oleh Pandi Upandi.BA) Bahan perbandingan di atas sedikit menjelaskan bahwa musik tradisional juga bisa populer, populer seperti musik barat. Padahal masa Karawitan Kreasi Baru (modern) tahun 1935 penjajahan masih berlangsung, makan pun sulit, sekolah pun dikhususkan hanya untuk kalangan menak. Bila dibandingkan dengan masa itu, masa sekarang lebih maju di bidang media dan teknologi, telah merdeka, itu artinya Negara ini tak dijajajah lagi. Merdeka ?

Catatan Akhir
1. Dieter Marck, Pendidikan Musik, Antara Harapan Dan Realitas, (UPI Masarakat Seni Pertunjukan Indonesia) hal 2.
2. Pandi Upandi, Pengetahuan Karawitan: Latar Belakang Dan Perkembangan Karawitan Sunda, (Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia Sub Proyek Akademi Seni Tari Indonesia Bandung, 1983/1084), halaman 2.
3. Bruce Quarrri, Polisi- Polisi Rahasia Sedunia, Alih Bahasa Anzaruddin AR, (Anelka Selecta- Jakarta), halaman 231.
4. M. Habib Mustopo, Ilmu Budaya Dasar, Kumpulan Essay Manusia Dan Budaya, (Usaha Nasional Surabaya- Indonesia) hal 13.
5. Majalah Gong, Edisi 97/1X/2008, hal 3.
6. Abah Sukinta, salah satu Veteran anggkatan 45.
7. Majalah Gong, Edisi 86/V111/2006, hal 16-17.

 
LAST_UPDATED2
 

Comments  

 
0 #1 willy 2010-02-10 00:36
wah no comment deh...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh


bottom

Powered by Resonans.