top
logo

Komentar terakhir


Halaman depan
Selamat datang di website Resonans - Pantulan Seni dan Budaya
Menggugat Sejarah, Melahirkan Kecerdasan
Selasa, 13 April 2010 11:07
oleh: Rendy Jean Satria*

Sejarah adalah sebuah, kemandegan, ia gagal menyerupai manusia. Tak bisa di ajak kompromi secara parsial. Membagi sebuah pernyataan dengan hal yang absurd. "absurditas teks" cetus Albert Camus, filsuf Perancis. Dalam hal kemanusiaan pun, sejarah selalu di serang oleh hal-hal yang berbau agama dan mistifikasi metafisika. Kita harus cepat-cepat mendekontruksi hal yang paling dasar dari apa yang kita sebut sebagai sejarah itu. Kemuliaan atau kegagalan dalam berfilosofis. Kita harus mengapus pikiran kolektif konsep tentang sejarah. Tak ada yang namanya sejarah tentang metafisika, budaya, juga tentang politik. semuanya adalah hal yang bisa didekontruksi dengan dialektika yang sedikit berapi-api, berombak dan merensensi konsepsi stilisasi.
LAST_UPDATED2
 
Mereorientasikan Seni
Selasa, 13 April 2010 10:53

  Oleh: Mufti-Ali-Sholih

Menjadi manusia, tentunya selalu memiliki dua sisi yang bertentangan dan juga mempersatukan, kedua sisi itu adalah anugrah dan kutukan. Anugrah, karena ketika dilemparkan ke bumi, manusia seolah dikutuk untuk menjadi penguasa dengan segala potensi yang dimilikinya, dan kutukan karena potensi itu tidak bisa meliwati dan melebihi alur kreasi semesta yang ada disekelilingnya. Akan tetapi, diluar kutukan dan anugrah, manusia sejatinya mampu mendamaikan dua kondisi itu untuk membuat kehidupannya di bumi lebih semarak. Hal ini, ditandai dengan dilahirkannya seni sebagai jawaban terhadap dua kondisi yang melingkupi hidup manusia.

LAST_UPDATED2
 
Profil - Gerenyem Nilem
Senin, 15 Pebruari 2010 23:32

Gerenyem Nilem pada awalnya merupakan kelompok belajar mahasiswa STSi Bandung jurusan Karawitan angakatan 2009, lalu mencoba dibentuk menjadi sebuah group kesenian yang pada waktu itu untuk beberapa saat pernah menjadi group Wayang Golek,

LAST_UPDATED2
 
Cemas - TARREGA (1852-1909) "Bapak Gitaris Modern"
Selasa, 16 Pebruari 2010 08:05

Oleh: Aryande Arsa

Fransisco Tarrega atau yang lebih dikenal sebagai "bapak gitaris klasik modern", dilahirkan di Spanyol pada tahun 1852-1909. Dipercaya pada zaman Tarrega mulai digunakannya footstool standar sebagai alat penyangga kaki kiri pada sikap sempurna pada permainan gitar klasik, dimana sebelumnya footstool berupa bantal (M. Carcassi), sandaran pada paha kanan (F. Carulli), sebongkahan batu bata atau sejenisnya dan ada juga beberapa yang menggunakan meja atau kursi  sebagai sandaran body bawah gitar, dengan bermain gitar pada posisi berdiri (F. Sor).

LAST_UPDATED2
 
Populerkah?
Selasa, 09 Pebruari 2010 23:14
 “Perlakuan penjajah sudah mengakar lalu menjadi daging di tubuh negeri ini. Disadari atau tidak kita masih terperangkap dalam literatur ganasnya materi sajian masa lalu. Cerita masyarakat yang tanpa bukti, kepercayaan masyarakat yang sudah terbukti, dipojokan dalam suatu wadah yang dinamakan pemberontak dan penyimpangan Agama.
Agama dan keselamatan ditawarkan seperti enaknya roti hangat, basis-basis dibentuk atas nama partai, LM, penguasa, dan lebih parah lagi yang mengatasnamakan Agama. Masyarakat pun sudah tidak buta lagi, pada masa kekuasan penjajah, para gerilyawan yang menuntut kemerdekaan Timor-Timur (Frente Revolucionaria do Timur Leste Indepedente atau Fretelin), masa Presiden Soekarno dan masa Presiden Soeharto yang saat itu kerucut pemberontakan pernah muncul ke permukaan. Maka tak heran bila paska reformasi menjadi tulang punggung keselamatan bangsa”.
LAST_UPDATED2
 
« MulaiPrev123NextEnd »

Halaman 2 dari 3

bottom
top

Tulisan terakhir

Top tulisan


bottom

Powered by Resonans.